Daerah  

Kepala Kampung Tanjung Rejo Merayakan Hari Haya Galungan

WAYKANAN.TARGETLIPUTAN.COM,- Umat Hindu Kampung Tanjung Rejo Kecamatan Negeri Agung, Merayakan Hari raya Galungan, yang biasa dilakukan setiap 6 bulan Bali (210 hari), yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).

“Perayaan Hari Raya Galungan identik dengan penjor yang dipasang di tepi jalan, menghiasi jalan di Seputaran Kampung Tanjung Rejo khusus umat Hindu yang bernuansa alami. Di jaman modern ini, kerap disorot sebagai Kampung yang indah sekaligus religius. (Penjor adalah bambu yang dihias sedemikian rupa sesuai tradisi masyarakat Bali setempat). seperti yang dilaksanakan di hari raya Galungan 2 Agustus 2023.

Kepala Kampung Tanjung Rejo I Ketut Same yang beragama Umat Hindu memberikan sedikit pengertian tentang galungan, Adapula Hari Raya Galungan ialah hari dimana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta jagad raya beserta seluruh isinya.

Serta merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma). Sebagai ucapan syukur, umat Hindu memberi dan melakukan persembahan pada Sang Hiyang Widhi dan Dewa Bhatara (dengan segala manifestasinya). Penjor yang terpasang di tepi jalan (setiap rumah) sendiri merupakan aturan ke hadapan Bhatara Mahadewa.

Baca Juga  Pengukuhan 34 Anggota Paskibraka Kecamatan Negri Agung.

Kepala Kampung Tanjung Rejo I Ketut Same menjelaskan Galungan dan Kuningan dirayakan sebanyak dua kali dalam setahun kalender Masehi (kalender yang biasa kita pakai). Jarak antara Galungan dan Kuningan sendiri ialah 10 hari. Perhitungan perayaan kedua hari raya tersebut berdasarkan kalender Bali.Galungan setiap hari Rabu pada wuku Dungulan. Sementara Kuningan setiap hari Sabtu, perayaan menangnya dharma melawan adharma. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang.

Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

Namun ada pun Kuningan yang juga disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama sebenarnya tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan pada kegiatan galungan hari ini,”tutupnya.TL/A.Said

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *